Sabtu, 23 April 2022

Eksistensi Wae Teku Terhadap Kebersamaan Orang Manggarai.

 


   Perkembangan zaman memberikan hal yang signifikan terhadap berbagai hal. Oleh karena itu, butuh keterampilan khusus dalam menyikapi hal itu, agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan terjadi.  Budaya merupakan jumbatan sekaligus fondasi dalam pola prilku setiap orang , tentu ini diwariskan secara turun temurun.
  Budaya di Manggarai begitu banyak, sehingga hal ini memperkaya sekaligus menambah  wawasan baru terhadap generasi saat ini...

  kebersamaan itu dilakukan banyak cara. Namun fokus saya dalam hal ini yaitu kebersamaan orang Manggarai dalam eksistensi Wae Teku. Berbicara tentang Wae Teku mungkin sesuatu yang tidak asing lagi didengar, namun eksistensi Wae Teku sekarang ini tidak lagi digunakan seperti dulu, Lantara perkembangan zaman yang kian memberikan dampak yang besar terhadap kehidupan.

  Berbicara soal Wae Teku yaitu salah satu tempat sesajian dan sumber mata air yang dilakukan orang Manggarai ketika melakukan ritus acara adat, hal ini yang memperkaya adat Manggarai yang harus dijunjung tinggi nilainya terhadap nilai kehidupan.

  Kebersamaan di wae Teku memberikan manfaat terhadap keakraban orang Manggaai. Salah satu yang menambah keakraban orang Manggarai yaitu dengan percakapan "u cebong". Percakapan ini dilakukan apabila ada yang mau lewat di sekitar Wae Teku. 

  Eksistensi Wae Teku kini mengalami perubahan akibat perubahan zaman, dulu wae Teku dijadikan tempat orang menimbah air, namun sekarang wae Teku justru dijadikan tempat biasa, bahkan jarang orang merawatnya. Perlahan eksistensi Wae Teku ini akan mengalami perubahan karena pola kebiasaan masyarakat Manggarai kini mengalami perubahan.

  Masyarakat Manggarai menjadikan wae Teku sebagai bagian dari kehidupan, Lantara manfaatnya sebagai sumber air.  Dulu masyarakat Manggarai menimbah air untuk masak hanya di wae Teku, karena itu wae Teku dirawat dengan baik. 

  Dengan meningkatnya berbagai sumber air saat ini, memberikan pengaruh terhadap wae Teku. Pengaruh dalam hal ini bahwa, kalimat "u cebong" tidak lagi di ucapkan dan hal ini memberikan konsekuensi terhadap lunturnya nilai kebersamaan masyarakat Manggarai saat ini..πŸ™πŸ™



Jumat, 01 April 2022

Terkadang Jomel Mendatangkan persoalan

  



Budaya merupakan hal yang sangat melekat terhadap kepribadian masyarakat Manggarai. Budaya, bukan dipandang sebagai suatu hal yang dianggap formalitas, namun budaya itu harus menjadi wadah sebagai sesuatu yang dianggap penting. Berdasarkan hal itu, masyarakat manggarai sangat memegang teguh arti kebersamaan.

 "Jomel" merupakan suatu kata yang sangat melekat terhadap kepribadian masyarakat Manggarai. Disisi lain, kata"jomel"  merujuk terhadap persoalan berkaitan dengan rumah tangga. Misalnya : " pihak suami mengajak orang untuk minum kopi, atau dengan bahasa Manggarai disebut dengan "Ris" namun hal ini pihak suami mengajak orang tanpa melihat situasi dapur seperti apa.πŸ˜€ Sehingga persoalan terjadi antar pihak istri dan suami.
 Pada dasarnya kata "jomel" memang memberikan keakraban tersendiri bagi masyarakat Manggarai. Hal ini, memberikan dampak yang signifikan dan ciri khas tersendiri bagi orang Manggarai. 
"Jomel" memiliki nilai tersendiri bagi peradaban masyarakat Manggarai. Sehingga hal ini, "jomel" dipandang sebagai sesuatu yang dianggap penting karena "jomel" adalah hal yang mempersatukan orang. 
  Bagi orang Manggarai hal ini harus disyukuri karena memberikan pengaruh terhadap bagaimana relasi yg baik antara sesamaπŸ€— bukan hanya masyarakat Manggarai. Namun berkat dari hal ini memberikan suatu kebiasaan terhadap bagaimana proses interaksi antara sesama hingga menjadi suatu kebiasaan yang tidak pudar...πŸ™









Mahasiswa Bersama Kelompok Tani Mengikuti Kegiatan Pembuatan Pupuk Bokasi.

   Dalam rangka untuk menyikapi persoalan berkitan dengan penyediaan sayur-sayuran di Manggarai Barat, mahasiswa dan kelompok petani di Desa...